Pegunungan Seribu di bagian Selatan pulau Jawa merupakan pegunungan kapur yang membentang dari Pacitan (Jawa Timur), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), Kabupaten Gunung Kidul (DIY) hingga Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Sejarah geologi wilayah Pegunungan Seribu, menurut ahli geologi Dr. Tony Djubiantono, terbentuk pada kala Miosen atau Pleistosen Tengah (jutaan tahun yll), dimana saat itu terjadi perubahan yang spektakuler ketika dasar laut di daerah tsb terangkat ke atas (karena benturan lempeng kah? -cin-). Pada proses terangkatnya dasar laut yang semula berupa teluk besar, berlangsung pembentukan koloni berupa bukit-bukit yang kemudian menjadi bagian dari Pegunungan Seribu. Bukit-bukit di daerah tsb hingga saat ini secara jelas memperlihatkan format batuan koral serupa dengan batuan di dasar lautan. Bahkan di sejumlah tempat dengan mudah ditemukan fosil-fosil binatang laut (yang menunjukkan bahwa daerah tsb dahulunya merupakan dasar lautan).

Pegunungan kapur atau disebut juga sebagai pegunungan karst merupakan bentang alam di permukaan maupun di bawah permukaan yang secara khas berbentuk batu gamping dan dolomit sebagai proses pelarutan dan peresapan air. Jadi, ciri dominan pegunungan karst ini berupa bukit-bukit karang yang tersusun atas batuan gamping atau disebut juga batuan kapur, yang berbentuk meruncing maupun yang berbentuk seperti kubah. Selain itu kawasan karst juga memiliki cekungan (doline) atau lembah, dan di beberapa kawasan karst dilengkapi pula dengan telaga (lepen) yang fungsinya menampung air hujan. Pegunungan Sewu diperkirakan mempunyai 40.000 bukit karst pada ketinggian 100 - 300 m dpl.

Bila kita melihat Pegunungan Seribu maka kesan yang tertangkap adalah kering, gersang, tandus, miskin. Pada kenyataannya tidaklah 'semiskin' yang diperkirakan. Ratusan meter di bawah permukaan tanah mengalir sungai bawah tanah dengan debit air yang melimpah. Jaringan sungai bawah tanah ini akan membawa air hingga ke permukaan, membentuk mata air. Mata air di kawasan karst Pegunungan Sewu diperkirakan berjumlah 155 buah, dimana untuk Kabupaten Gunung Kidul (DIY) terdapat 4 sumber air yang memasok kebutuhan air bersih warga Gunung Kidul. Sumber air tsb adalah sumber air Baron di Kecamatan Tanjungsari yang berdebit 1.080 liter/detik, sumber air Ngobaran di Kecamatan Saptosari dengan debit 135 liter/detik, sumber air Seropan di Kecamatan Semanu dengan debit 800 liter/detik dan sumber air Bribin di Kecamatan Semanu yang debitnya 1.000 liter/detik. Yang menjadi persoalan adalah sumber air tsb tidak memadai, disamping juga letaknya yang terlalu jauh dari pemukiman warga. Untuk mengatasi masalah kelangkaan air maka dilakukan pengeboran sumur (dalam) seperti di Bribin, tetapi hal ini terbentur dengan mahalnya biaya pemasangan instalasi pengeboran. Masalah lain adalah merebaknya penambangan di kawasan karst yang berpotensi merusak/mencemari jaringan sungai bawah tanah.

Kesan gersang dan tandus dewasa ini mulai dikikis dengan adanya pemanfaatan lapisan tanah dan lembah di sela bebatuan untuk menaman kayu jati, mahoni, ketela pohon, jagung, kacang-kacangan (tanaman-tanaman yang sesuai dengan kondisi alam yang kering/kurang air). Salah satu hasilnya yaitu ketela pohon yang diolah menjadi gaplek sebagai bahan baku tepung tapioka.

Kawasan karst Pegunungan Sewu juga kaya akan goa, setidaknya terdapat 120 goa yang menjadi hunian manusia-manusia purba muda selama rentang 12.000 - 6.000 tahun yll. Di goa-goa ini terbentuk koloni awal manusia bermukim, beraktivitas, melahirkan keturunan dan dikuburkan. Di Gunung Kidul terdapat 60 goa sebagai hunian tetap maupun transit para manusia purba muda atau manusia modern awal (Homo Sapiens). Mereka yang membentuk hunian ini sebagian besar dari ras Mongoloid yang dicirikan dengan muka pendek dan sempit, rahang tidak kekar, gigi geligi relatif kecil dan tulang serta postur tubuh relatif kecil. Keberadaan goa-goa tsb terancam oleh adanya penambangan di kawasan karst, padahal sering kali ditemukan goa-goa yang menyimpan fosil masa prasejarah. Diantaranya goa yang telah ditambang adalah goa Sengok di Playen.

Melihat potensi yang ada di kawasan karst Pegunungan Seribu, memungkinkan untuk dikembangkan sebagai geowisata. Selain pemandangan alam perbukitan dengan batuannya yang khas maupun pesisir pantai Selatan Jawa dengan hamparan pasir putihnya yang elok, andalan lain adalah goa-goa maupun sungai bawah tanah. Dengan pembangunan fasilitas penunjang yang memadai akan membuat kawasan ini layak dijadikan target kunjungan

Sumber : http://blog.360.yahoo.com/blog-jlVAipcycqhja6.QsE5bEBdhcQ--?cq=1&p=253

0 comment